Membedah novelet : DIGITAL FINGERPRINT
Ketika Jejak Kecil Menjadi Bencana Besar
Sebagai penulis, ada satu
pertanyaan yang sering saya terima setelah seseorang membaca Digital
Fingerprint:
"Kenapa memilih tema
jejak digital dan media sosial?"
Jawabannya sederhana. Karena
saya merasa kita hidup di zaman yang unik. Zaman ketika seseorang bisa terkenal
dalam semalam, tetapi juga bisa hancur hanya karena satu unggahan. Zaman ketika
kehidupan nyata dan kehidupan digital sering kali sulit dibedakan batasnya.
Melalui Digital
Fingerprint, saya ingin mengangkat fenomena tersebut dalam bentuk cerita
yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan remaja dan
generasi muda yang tumbuh bersama media sosial.
Ide Awal Cerita
Awalnya, saya tidak langsung
memikirkan Diana atau Ryan.
Yang pertama muncul justru
sebuah pertanyaan:
"Bagaimana jika seorang
influencer menciptakan akun haters untuk dirinya sendiri demi menaikkan
engagement?"
Pertanyaan itu terdengar
sederhana, tetapi semakin saya pikirkan, semakin menarik konflik yang bisa
lahir dari sana.
Di dunia media sosial saat
ini, perhatian adalah mata uang. Semakin banyak orang membicarakan kita,
semakin besar peluang mendapatkan eksposur. Kadang pujian tidak cukup.
Kontroversi justru sering menjadi bahan bakar yang lebih efektif.
Dari sinilah karakter Diana
mulai terbentuk.
Saya tidak ingin membuat
tokoh antagonis yang jahat tanpa alasan. Saya ingin menghadirkan seseorang yang
melakukan kesalahan besar, tetapi memiliki alasan yang manusiawi. Diana bukan
orang jahat. Ia hanya terjebak dalam tekanan hidup yang membuatnya mengambil
jalan yang salah.
Mengapa Diana dan Ryan?
Saat membangun cerita, saya
sadar bahwa Diana membutuhkan lawan main yang menjadi kebalikannya.
Lahirnya Ryan bukan tanpa
alasan.
Jika Diana hidup di dunia
algoritma, statistik, sponsor, dan pencitraan, maka Ryan hidup di dunia yang
jauh lebih sederhana. Ia tidak mengejar popularitas. Ia hanya ingin menjaga
studio musik komunitasnya tetap hidup.
Saya sengaja membuat kedua
karakter ini berasal dari dunia yang berbeda.
Diana terbiasa mengukur
keberhasilan melalui angka.
Ryan terbiasa mengukur
keberhasilan melalui proses.
Diana berpikir strategis.
Ryan berpikir tulus.
Kontras inilah yang kemudian
menjadi mesin utama konflik cerita.
Semakin dekat hubungan
mereka, semakin sulit bagi Diana mempertahankan kebohongannya.
Tentang Akun @HateDiana_
Banyak pembaca mengatakan
bagian paling mengejutkan adalah ketika terungkap bahwa akun hater tersebut
ternyata dibuat dan dijalankan oleh Diana sendiri.
Sejujurnya, sejak awal saya
memang ingin menjadikan akun itu sebagai simbol.
Akun tersebut bukan sekadar
alat untuk menciptakan konflik.
Ia adalah representasi dari
sisi gelap Diana.
Semua ketakutan, tekanan,
ambisi, dan rasa putus asa Diana diwujudkan melalui akun anonim tersebut.
Menariknya, semakin sering
Diana menggunakan akun itu, semakin besar pula pengaruhnya terhadap
kehidupannya sendiri.
Awalnya Diana mengendalikan
akun tersebut.
Namun perlahan justru akun
itulah yang mengendalikan Diana.
Mengapa Judulnya Digital Fingerprint?
Judul ini menjadi salah satu
bagian yang paling lama saya pikirkan.
Saya ingin sebuah judul yang
tidak hanya terdengar modern, tetapi juga memiliki makna kuat terhadap
keseluruhan cerita.
Jejak digital sering dipahami
sebagai data yang kita tinggalkan di internet. Padahal menurut saya maknanya
lebih luas daripada itu.
Kita meninggalkan sidik jari
dalam cara berbicara.
Dalam pilihan kata.
Dalam kebiasaan mengetik.
Dalam keputusan yang kita
ambil.
Dalam pola perilaku yang
terus berulang.
Karena itulah di dalam
cerita, kebohongan Diana tidak terbongkar melalui teknologi supercanggih.
Justru petunjuknya berasal
dari hal-hal kecil yang sangat manusiawi.
Sebuah typo.
Sebuah kebiasaan.
Sebuah pola yang terus
berulang.
Saya ingin menunjukkan bahwa sering kali manusia tidak jatuh karena kesalahan besar, tetapi karena mengabaikan detail-detail kecil.
Konflik yang Sebenarnya
Banyak yang mengira konflik
utama dalam Digital Fingerprint adalah soal akun hater.
Padahal bagi saya, konflik
sebenarnya ada di dalam diri Diana.
Sejak awal cerita, Diana
berperang melawan dirinya sendiri.
Di satu sisi ia membutuhkan
uang untuk membantu keluarganya.
Di sisi lain ia sadar bahwa
apa yang dilakukannya terhadap Ryan tidak benar.
Setiap kali Ryan menunjukkan
ketulusan, rasa bersalah Diana semakin besar.
Setiap kali engagement naik,
hati nuraninya justru semakin tertekan.
Saya sengaja membangun
konflik seperti ini karena kehidupan nyata sering kali tidak sesederhana hitam
dan putih.
Kadang seseorang melakukan
hal yang salah bukan karena ia menikmati kejahatan, melainkan karena merasa
tidak memiliki pilihan lain.
Tentu saja itu tidak
membenarkan tindakannya, tetapi membuat kita bisa memahami mengapa ia
melakukannya.
Kritik terhadap Dunia Media Sosial
Saya tidak menulis Digital
Fingerprint untuk menghakimi media sosial.
Media sosial sendiri hanyalah
alat.
Yang ingin saya soroti adalah
bagaimana manusia menggunakannya.
Saat ini kita hidup di tengah
budaya viral.
Banyak orang berlomba
mendapatkan perhatian.
Banyak orang merasa harus
selalu terlihat bahagia, sukses, atau menarik.
Dan sering kali, tekanan
untuk mempertahankan citra tersebut jauh lebih berat daripada yang terlihat
dari luar.
Melalui Diana, saya mencoba
menggambarkan sisi itu.
Bahwa di balik foto yang
sempurna, bisa saja ada kecemasan.
Di balik angka yang tinggi,
bisa saja ada ketakutan.
Di balik popularitas, bisa
saja ada kesepian.
Ryan dan Ketulusan yang Langka
Kalau Diana adalah karakter
yang paling kompleks untuk ditulis, maka Ryan adalah karakter yang paling sulit
dijaga konsistensinya.
Alasannya sederhana.
Karakter yang baik sering
kali lebih sulit ditulis dibanding karakter yang penuh masalah.
Saya tidak ingin Ryan
terlihat seperti sosok sempurna tanpa cela.
Karena itu ia tetap memiliki
ego, kecurigaan, dan kemarahannya sendiri.
Namun saya ingin
mempertahankan satu hal dalam dirinya: ketulusan.
Ryan adalah pengingat bahwa
tidak semua orang melihat dunia sebagai ajang kompetisi.
Masih ada orang-orang yang
membantu tanpa menghitung untung rugi.
Masih ada orang-orang yang
memilih percaya ketika orang lain memilih curiga.
Dan justru ketulusan itulah
yang akhirnya menjadi ancaman terbesar bagi kebohongan Diana.
Pesan yang Ingin Saya Sampaikan
Jika ada satu hal yang ingin
saya tinggalkan melalui Digital Fingerprint, mungkin bukan soal
teknologi.
Bukan juga soal media sosial.
Melainkan soal konsekuensi.
Setiap tindakan meninggalkan
jejak.
Setiap kebohongan
meninggalkan bekas.
Setiap keputusan memiliki
harga yang harus dibayar.
Kadang harga itu datang
cepat.
Kadang datang jauh di
kemudian hari.
Tetapi jejak itu tetap ada.
Dan ketika waktunya tiba,
jejak tersebut akan membawa kita kembali kepada keputusan yang pernah kita
buat.
Penutup
Menulis Digital
Fingerprint adalah perjalanan yang menarik sekaligus menantang bagi saya.
Cerita ini lahir dari fenomena yang setiap hari kita lihat, tetapi mungkin
jarang kita renungkan lebih dalam.
Saya berharap pembaca tidak
hanya menikmati misteri dan konfliknya, tetapi juga menemukan ruang untuk
bertanya kepada diri sendiri:
"Jejak apa yang sedang
saya tinggalkan hari ini?"
Karena pada akhirnya, dunia
digital mungkin penuh topeng. Namun seperti yang coba saya tunjukkan dalam
novelet ini, tidak ada topeng yang bisa dipakai selamanya.
Cepat atau lambat, sidik jari
kita akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk berbicara.

Komentar
Posting Komentar