Kerinduan yang Menghujam Lautan Jiwa


Aku adalah angin yang mengembara di antara bukit-bukit sunyi, membisikkan namamu ke dalam daun-daun yang gemetar. Tapi engkau tak mendengar. Engkau adalah bulan yang menggantung di langit mimpiku, selalu ada, selalu terang, tapi tak pernah kuraih.

Kerinduanku adalah sungai yang mengalir deras, menghanyutkan batasan waktu dan jarak. Setiap tetes airnya adalah kenangan: senyummu yang seperti mentari pagi, suaramu yang seperti aliran deras di hutan, dan tatapanmu yang lebih dalam dari samudra. Tapi sungai ini tak pernah sampai ke lautmu. Ia hanya berputar-putar dalam diriku, mengikis batuan kesabaran, membentuk ngarai yang dalam.

Kadang kurasakan kau seperti hujan yang turun di musim kemarau—datang sejenak, membasahi bumi jiwaku yang retak, lalu pergi lagi. Aku menjadi tanah yang haus, menunggu dengan setia, meski tahu awanmu mungkin hanya fatamorgana.

Di malam-malam panjang, kudengar burung hantu bernyanyi dalam gelap. Suaranya seperti suara hatiku: memanggil-manggil sesuatu yang tak pernah menjawab. "Di manakah engkau?" tanyaku pada bintang-bintang. Mereka hanya berkedip, seolah berkata, "Dia ada di antara cahaya dan bayangan, di tempat yang kau kenal tapi tak bisa kau sentuh."

Lautan jarak antara kita bukanlah air asin, melainkan waktu yang diam-diam menggerogoti kapal harapanku. Aku berlayar dengan peta yang kau lukis di kulit kayu—setiap garisnya adalah janji, setiap titiknya adalah kenangan. Tapi ombak realitas menghantam lambungku, dan pelabuhanmu tetap menjadi siluet di cakrawala.

Aku ingin menjadi akar yang tumbuh menyusup bawah tanah, menembus bebatuan, mencari sumber air di mana pun engkau berada. Atau mungkin menjadi burung migran yang tak kenal lelah, terbang melintasi benua hanya untuk singgah sejenak di dahan hidupmu.

Tapi kau tahu, kekasihku? Kerinduan ini juga adalah api unggun di tengah salju. Ia menghangatkanku dengan bayanganmu, meski nyalanya perlahan membakar habis kayu-kayu kesabaranku. Aku terjaga dalam dingin malam, memandang asapnya yang membubung ke langit, berharap kau melihatnya dari seberang sana.

Andai aku bisa menulis surat pada angin, kusuruh ia membawakan aroma rambutmu. Andai aku bisa menyuap tanah dengan rindu, mungkin bunga-bunga akan tumbuh membentuk wajahmu. Tapi yang kupunya hanya kata-kata bisu, seperti ikan yang terjebak di kolam terasing—berenang-renang dalam lingkaran, tak pernah sampai ke samudramu.

Maka biarlah waktu menjadi sungai yang kubangun jembatan dari rindu. Suatu hari nanti, kau akan melintasinya, dan kita bertemu di tengah—di mana langit menyentuh cakrawala, di saat matahari tak lagi memilih antara terbit atau tenggelam, tapi hanya ada cahaya.

Sampai saat itu tiba, aku akan tetap menjadi kabut pagi yang menyapukan dirinya pada pepohonan—ada tapi tak tergenggam, pergi tapi tak pernah benar-benar hilang.

Selamanya, di antara debur ombak dan bisik angin ……

-The Homebound Verses

Komentar