SUGAR DADDY DARI MASA LALU IBU
BAB 1: Malam di Klub Malam
Dentum
bas dari pengeras suara raksasa di Aether Club tidak hanya menggetarkan
dinding-dinding berlapis beludru hitam di sekelilingnya, tetapi juga menghantam
dada Kiara Putri dengan ritme yang menyakitkan. Di sudut pilar marmer yang
dingin, gadis berusia sembilan belas tahun itu berdiri kaku. Kedua tangannya
meremas erat lipatan gaun satin biru tua yang dikenakannya. Gaun itu dibelinya
dari pasar barang bekas dua hari lalu dengan sisa uang tabungannya—sebuah
pakaian yang terasa terlalu murah, terlalu ketat, dan sama sekali tidak pantas
berdampingan dengan kemewahan yang berpendar di sekeliling tempat ini.
Napas
Kiara terasa pendek dan patah-patah. Bau alkohol berkualitas tinggi, asap rokok
elektrik beraroma manis yang pekat, dan parfum mahal dari para pengunjung klub
bercampur menjadi satu, menciptakan kabut tak kasat mata yang mencekik
tenggorokannya. Ia merasa seperti alien yang tersesat di planet lain. Sepanjang
hidupnya, dunia Kiara hanyalah perpustakaan kampus, ruang kuliah, kamar sewaan
yang sempit, dan koridor rumah sakit yang berbau karbol. Tempat gila penuh
hura-hura seperti ini sama sekali bukan dunianya.
"Ingat,
Kiara," sebuah bisikan tajam tiba-tiba masuk ke telinganya, memecah
kebisingan yang bergemuruh.
Amelia,
teman satu fakultasnya sekaligus sosok yang menjadi penghubung malam itu,
mendekat. Amelia tampil sangat kontras dengan Kiara; ia mengenakan gaun merah
menyala yang berani, tampak begitu percaya diri dan terbiasa dengan atmosfer
malam yang liar. Amelia memegang cermin bedak kecil, mengarahkannya ke wajah
Kiara yang tampak pucat di bawah sorotan lampu strobo berwarna ungu dan biru.
jika lebih nyaman baca di KARYAKARSA
"Pria-pria
VIP yang berada di lantai dua malam ini bukan orang biasa. Mereka adalah
penguasa bisnis, pewaris takhta korporat, dan pria-pria berdompet tanpa batas
yang bisa membeli apa saja di kota ini dengan sekali jentikan jari. Jangan
terlihat gugup. Tegakkan bahumu, tersenyumlah seolah-olah kau menikmati malam
ini. Pria tidak suka melihat wanita yang tampak seperti korban di tempat
seperti ini," nasihat Amelia setengah mendikte.
Kiara
mencoba menelan ludah, tetapi tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ia
menatap pantulan dirinya di cermin kecil Amelia. Mata hazel miliknya—warisan
paling berharga dari ibunya—tampak bulat besar, dipenuhi ketakutan yang tidak
bisa disembunyikan. Bulu matanya yang lentik sedikit bergetar. Kulitnya yang
kuning langsat tampak kontras dengan warna biru tua gaunnya, memberikan kesan
polos yang justru sangat berbahaya di tempat yang penuh dengan serigala lapar
ini.
"Aku...
aku tidak tahu apakah aku bisa melakukan ini, Mel," bisik Kiara, suaranya
hampir tenggelam oleh dentuman musik EDM yang semakin memekik telinga.
Amelia
menghela napas panjang, menatap Kiara dengan campuran rasa kasihan dan
ketegasan. Ia menutup cermin bedaknya dengan bunyi klik yang tajam.
"Kiara, dengar aku. Kita sudah membahas ini berkali-kali. Kau butuh uang
itu. Sangat butuh. Berapa banyak waktu yang tersisa untuk ibumu?"
Pertanyaan
Amelia seperti hantaman palu godam yang menghancurkan sisa-sisa keraguan Kiara.
Angka lima ratus juta rupiah seketika berkelebat di benaknya, membakar
kesadarannya dengan rasa sakit yang luar biasa.
Pikiran
Kiara melayang kembali ke ruang perawatan kelas tiga di rumah sakit umum daerah
yang pengap. Di atas ranjang besi yang catnya mulai mengelupas, ibunya, Sonia,
terbaring lemah dengan tubuh yang semakin kurus dari hari ke hari.
Selang-selang medis menancap di kulit ibunya yang pucat, sementara mesin
dialisis di samping ranjang terus berbunyi bip dengan ritme yang monoton,
mengingatkan Kiara bahwa waktu ibunya terus berjalan mundur seperti bom waktu.
Ibunya
membutuhkan operasi transplantasi ginjal segera. Dokter spesialis yang
merawatnya sudah memberikan peringatan keras minggu lalu: jika dalam waktu dua
minggu ke depan donor ginjal tidak segera didapatkan dan biaya deposit operasi
sebesar lima ratus juta rupiah tidak dilunasi, maka tubuh Sonia tidak akan
sanggup bertahan lebih lama lagi. Fungsi ginjalnya sudah berada di bawah
sepuluh persen.
Keadaan
semakin diperparah dengan kenyataan pahit bahwa ayah tiri Kiara, Bram, telah
melarikan diri dua bulan lalu. Pria bajingan itu tidak hanya meninggalkan
ibunya yang sekarat, tetapi juga mewariskan tumpukan utang judi kepada para
lintah darat kejam yang kini setiap hari meneror rumah kontrakan mereka. Kerja
paruh waktu Kiara sebagai kasir minimarket dan tutor matematika untuk anak-anak
sekolah dasar tidak akan pernah cukup, bahkan hanya untuk membayar biaya sewa
mesin cuci darah mingguan ibunya.
Dalam
keputusasaan yang berada di ujung tanduk, satu-satunya aset berharga yang
tersisa di dunia ini kini hanyalah dirinya sendiri. Kehormatannya. Masa
depannya. Kiara bersedia menukarnya dengan nyawa ibunya.
"Waktunya
tinggal sepuluh hari lagi, Mel," suara Kiara bergetar hebat saat
mengatakannya. Matanya mulai berkaca-kaca, mereflesikan cahaya lampu klub yang
berkilauan.
"Maka
dari itu, tahan ketakutanmu," ujar Amelia, kali ini suaranya melunak
seraya menggenggam erat jemari Kiara yang sedingin es. "Malam ini adalah
kesempatan terbesarmu. Di lantai dua, ada ruangan-ruangan privat khusus di mana
para miliarder menghabiskan uang mereka tanpa berpikir dua kali. Jika salah
satu dari mereka menyukaimu, masalah finansialmu akan lenyap dalam
semalam."
Sebelum
Kiara sempat membalas, suasana di dalam Aether Club mendadak mengalami
perubahan atmosfer yang sangat kentara. Musik yang semula berdentum liar dengan
tempo cepat perlahan-lahan meredup, berganti dengan ketukan bas yang lebih
lambat namun berwibawa, menciptakan ketegangan yang elegan.
Beberapa
orang di lantai dansa mulai berbisik-bisik, dan pandangan mata hampir seluruh
pengunjung di area bar perlahan-lahan mengarah ke satu titik: pintu masuk utama
area VIP.
"Raja
malam ini baru saja tiba," senggol Amelia dengan siku tangannya, matanya
melebar penuh kekaguman sekaligus rasa hormat yang mendalam. Ia membuyarkan
lamunan pahit Kiara dengan paksa.
Kiara
mendongak, mengikuti arah pandang Amelia menuju balkon Super VIP di
lantai dua yang memiliki pembatas kaca transparan tebal. Dari sana, siapa pun
bisa melihat ke seluruh penjuru klub dengan jelas, sementara orang-orang di
bawah hanya bisa menatap ke atas bagaikan rakyat jelata yang menatap istana
kerajaan.
Seorang
pria melangkah keluar dari koridor VIP yang dijaga ketat oleh empat orang pria
berbadan tegap dengan setelan jas hitam dan earpiece di telinga mereka.
Pria yang dikawal itu berjalan dengan langkah yang tenang, mantap, dan sarat
akan kekuasaan.
Dia
adalah seorang pria jangkung berpostur tegap dan atletis, dengan bahu lebar
yang tampak sempurna di balik setelan jas hitam buatan penjahit terbaik Italia.
Pria itu sengaja tidak mengenakan dasi; dua kancing teratas kemeja putihnya
dibiarkan terbuka, memberikan kesan santai namun tetap memancarkan aura
dominasi yang pekat, dingin, dan sangat mengintimidasi. Wajahnya memiliki garis
rahang yang tegas bagai pahatan marmer, dengan hidung mancung dan bibir tipis
yang mengatup rapat tanpa ekspresi.
"Itu
Alex Aditya," bisik Amelia dengan suara yang hampir menyerupai pemujaan
terhadap dewa. "CEO tunggal dari Aditya Group. Dia baru berusia tiga puluh
enam tahun, tapi kekuasaannya di dunia bisnis properti dan teknologi sudah
tidak tertandingi. Dia luar biasa kaya, dingin seperti es di kutub, tidak
pernah tersenyum pada media, dan terkenal sangat cepat bosan dengan
wanita."
Kiara
menatap sosok pria bernama Alex Aditya itu tanpa berkedip. Ada sesuatu yang
sangat pekat dan gelap dari aura pria itu, seolah-olah dia dikelilingi oleh
badai tak terlihat yang siap menghancurkan siapa saja yang berani mendekat
terlalu dekat. Kiara merasa merinding hanya dengan melihatnya dari kejauhan.
Saat
berjalan menuju sofa kulit berukuran besar di sudut balkon VIP, langkah kaki
Alex mendadak berhenti di tepi pembatas kaca. Seolah merasakan ada sesuatu yang
menarik perhatiannya, kepala pria itu sedikit miring. Pandangan matanya yang
tajam bagai elang menyapu ke bawah, melewati kerumunan orang yang menari di
lantai dansa, menembus kabut asap tipis, dan entah bagaimana... berhenti tepat
pada figur Kiara yang berdiri kaku di sudut pilar marmer.
Jantung
Kiara seolah-olah berhenti berdetak saat itu juga.
Tepat
pada detik itu, dunia di sekeliling Kiara mendadak sunyi senyap. Dentuman musik
yang memekakkan telinga seolah lenyap, digantikan oleh suara detak jantungnya
sendiri yang berdegup kencang bagai genderang perang. Mata mereka bertemu.
Sepasang mata gelap milik Alex yang sedingin es dan penuh otoritas menatap
langsung ke dalam mata hazel Kiara yang bulat penuh ketakutan. Kiara merasa
seolah seluruh tubuhnya terkunci, tidak mampu bergerak bahkan hanya untuk
memutuskan kontak mata yang teramat intens itu.
Di
lantai dua, di dalam area balkon Super VIP, Alex Aditya mencengkeram
gelas kristal berisi wiski berusia puluhan tahun di tangan kanannya dengan
sangat erat. Jari-jarinya yang kokoh memutih karena tekanan yang kuat. Cairan
amber di dalam gelas itu terguncang kecil, memantulkan cahaya redup ruangan.
Dunia
di sekitarnya yang dipenuhi dengan musik bising dan tawa basa-basi para rekan
bisnisnya mendadak mengabur. Fokus matanya terkunci rapat pada satu titik di
lantai bawah.
Gadis
bergaun biru tua di bawah sana.
Gadis
itu berdiri di dekat pilar, tampak begitu rapuh, canggung, dan ketakutan di
tengah-tengah keliaran klub malam. Namun, bukan kerapuhannya yang membuat
tangan Alex mendadak kaku, melainkan wajahnya. Terutama sepasang mata hazel
bulat yang menatap ke atas dengan kepolosan yang begitu akrab—sepasang mata
yang sangat mirip, bahkan terlalu identik, dengan mata Sonia.
Sonia.
Nama
itu bergaung di kepala Alex bagaikan lonceng kematian dari masa lalu. Nama yang
selama delapan belas tahun ini telah dia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan
dendam, kerja keras, dan ambisi yang dingin. Sonia adalah cinta pertamanya saat
mereka masih mengenakan seragam abu-abu SMA. Dia adalah gadis yang dulu dia
puja dengan segenap jiwa mudanya yang naif.
Namun,
Sonia juga adalah wanita yang dengan kejam mencampakkannya delapan belas tahun
lalu, meninggalkannya begitu saja saat Alex tidak memiliki apa-apa, dan memilih
untuk menikah dengan seorang pria paruh baya yang kaya raya. Pengkhianatan
Sonia adalah alasan mengapa Alex Aditya yang hangat dan penuh mimpi mati hari
itu, digantikan oleh sosok monster korporat yang dingin, kejam, tanpa belas
kasihan, dan memandang semua wanita di dunia ini sebagai makhluk materialistis
yang bisa dibeli dengan uang.
Akal
sehat Alex langsung berteriak menolak spekulasi gila di kepalanya. Gadis di
bawah sana terlalu muda. Dia tampak baru berusia belasan tahun, sementara jika
Sonia masih hidup dan berada di kota ini, usianya pasti sudah hampir sama
dengannya. Gadis itu tidak mungkin Sonia.
Namun,
kemiripan yang luar biasa pada wajahnya, pada bentuk bibirnya, dan terutama
pada binar mata hazel yang penuh ketakutan itu mendadak menyulut kembali bara
api dendam lama yang mengendap di dasar dada Alex. Bara itu membakar dadanya
dengan rasa sakit yang aneh, bercampur dengan obsesi gelap yang tiba-tiba
bangkit dari tidurnya yang panjang.
Jika
dia bukan Sonia... maka siapa dia? Apakah dia memiliki hubungan darah dengan
wanita pengkhianat itu?
Alex
meletakkan gelas wiskinya di atas meja kaca dengan dentingan keras yang
memotong pembicaraan rekan bisnis di sampingnya. Matanya tidak pernah lepas
dari sosok Kiara yang kini tampak gelisah di bawah sana.
"Roy,"
panggil Alex dengan suara berat, dalam, dan dipenuhi otoritas yang tidak
menerima bantahan.
Seorang
pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu rapi—asisten pribadi tepercaya Alex
yang telah bersamanya selama lebih dari satu dekade—segera melangkah maju dari
bayang-bayang di belakang sofa. Roy membungkukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan
telinganya ke arah bosnya. "Ya, Tuan Alex?"
"Kau
lihat gadis bergaun biru tua yang berdiri di dekat pilar marmer di lantai
bawah?" tanya Alex, suaranya terdengar sangat tenang namun menyimpan
ketegangan yang berbahaya bagai permukaan laut sebelum badai.
Roy
mengikuti arah pandangan Alex, menganalisis situasi selama beberapa detik
sebelum kembali menatap tuannya. "Saya melihatnya, Tuan."
"Cari
tahu siapa dia. Siapa namanya, apa pekerjaannya, dan apa yang dia lakukan di
klub ini malam-malam begini," perintah Alex dingin. Ia menjeda kalimatnya
sejenak, matanya menyipit saat melihat Kiara tampak memegang dadanya, masih
terlihat sangat cemas. "Dan setelah kau mendapatkan namanya... bawa dia ke
ruang privatku di belakang dalam waktu sepuluh menit. Jangan buat aku
menunggu."
"Baik,
Tuan. Saya akan segera melaksanakannya," jawab Roy patuh. Tanpa banyak
bertanya, asisten pribadi itu langsung berbalik dan melangkah pergi dengan
cepat, menggunakan radio komunikasinya untuk berkoordinasi dengan tim keamanan
klub.
Alex
bersandar pada sofa kulitnya yang empuk. Ia melipat satu kakinya di atas kaki
yang lain, mengetukkan jemarinya yang panjang pada sandaran sofa dengan ritme
yang lambat. Senyum tipis yang sangat dingin dan sinis perlahan-lahan terukir
di sudut bibirnya yang biasanya kaku.
Mata
itu... aku tidak akan pernah salah mengenali mata itu, batin Alex, dipenuhi rasa
penasaran yang bercampur dengan kemarahan yang membara. Jika kau memang ada
hubungannya dengan wanita yang menghancurkan hidupku dulu... maka takdir
benar-benar memiliki cara yang sangat menarik untuk bermain-main.
Mari
kita lihat seberapa jauh kemiripanmu dengan ibumu, Gadis Manis. Dan mari kita
lihat seberapa besar harga yang harus kaubayar untuk mata indah yang kau miliki
itu.
Di
lantai bawah, Kiara merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Tatapan intens dari pria di balkon VIP tadi telah berakhir karena pria itu kini
kembali duduk dan berdiskusi dengan orang-orang di sekelilingnya, namun sisa
ketegangan dari kontak mata itu masih membuat lutut Kiara terasa lemas.
"Kiara,
kau baik-baik saja? Wajahmu semakin pucat," tanya Amelia, tampak khawatir
melihat temannya yang tiba-tiba memegangi dadanya dengan napas yang memburu.
"Aku...
aku merasa pusing, Mel. Kurasa aku harus ke kamar mandi sebentar untuk membasuh
wajahku," ujar Kiara lirih. Ia merasa perlu menjauhkan diri dari keramaian
ini selama beberapa menit agar pikirannya bisa kembali jernih.
"Pergilah.
Tapi jangan lama-lama, ya? Aku akan menunggumu di dekat bar ini," kata
Amelia sambil menepuk bahu Kiara pelan.
Kiara
mengangguk lemah. Ia berbalik dan mencoba berjalan melewati kerumunan orang
yang masih asyik menari di lantai dansa. Namun, baru saja ia melangkah beberapa
meter menjauhi pilar marmer tempatnya berdiri tadi, sesosok pria tinggi dengan
setelan jas rapi menghalangi jalannya dengan sopan namun sangat tegas.
Pria
itu adalah Roy. Di belakangnya, berdiri dua orang petugas keamanan klub
berbadan besar yang membuat beberapa pengunjung di sekitar mereka langsung
menjauh karena ketakutan.
"Selamat
malam, Nona," sapa Roy dengan nada suara yang sangat profesional, namun
tatapan matanya tajam menganalisis setiap jengkal wajah Kiara. "Apakah
saya bisa berbicara dengan Anda sebentar?"
Jantung
Kiara kembali berdegup kencang, kali ini dipenuhi oleh rasa takut yang luar
biasa. Ia mundur satu langkah secara naluriah. "Maaf... siapa Anda? Saya
rasa saya tidak mengenal Anda."
"Nama
saya Roy. Saya adalah asisten pribadi dari Tuan Alex Aditya," jawab Roy
tenang, menyebut nama bosnya dengan penekanan yang jelas. Pria paruh baya itu
memberi isyarat dengan tangannya ke arah tangga melingkar yang menuju ke lantai
dua. "Atasan saya ingin mengundang Anda untuk mengobrol secara privat di
ruangannya di atas."
Kiara
tertegun. Kepalanya mendadak terasa kosong. Ia menatap ke arah balkon VIP,
namun Alex Aditya sudah tidak ada di sana. Ruangan itu tampak kosong,
menyisakan beberapa gelas wiski di atas meja.
"Mengobrol?
Tapi... tapi saya tidak mengenal Tuan Alex," bantah Kiara dengan suara
bergetar. Ia mencoba mencari Amelia dengan pandangan matanya, namun temannya
itu terhalang oleh kerumunan orang dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi
padanya saat ini.
"Tuan
Alex tidak suka menunggu, Nona," potong Roy, suaranya kini terdengar
sedikit lebih dingin dan menekan, meskipun ekspresi wajahnya tetap sopan. Kedua
petugas keamanan di belakangnya maju setengah langkah, mempersempit ruang gerak
Kiara. "Ini adalah undangan yang sangat langka. Dan percayalah, ini adalah
jalan keluar terbaik untuk semua masalah yang sedang Anda hadapi saat
ini."
Kata-kata
Roy yang terakhir membuat Kiara tersentak. Masalah yang sedang kuhadapi?
Apakah mereka tahu tentang ibuku? Tentang utang ayah tiriku? pikir Kiara
dengan kepanikan yang memuncak. Bagaimana mungkin orang-orang asing ini bisa
mengetahui rahasia hidupnya yang paling kelam dalam waktu sesingkat itu?
Menyadari
bahwa ia tidak memiliki kekuatan atau pilihan apa pun untuk melawan di tempat
kekuasaan mereka, Kiara akhirnya menundukkan kepalanya. Ia meremas gaun satin
birunya sekali lagi, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa
di dasar jiwanya.
"Baiklah,"
bisik Kiara pasrah. "Saya akan ikut dengan Anda."
Roy
tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang tidak mencapai matanya.
"Pilihan yang sangat bijaksana, Nona. Silakan lewat sini."

Komentar
Posting Komentar